Lompat ke konten utama
Edukasi K3 di Sektor Pertanian Bagi Petani Desa Jatipecaron
Berita Desa KKN

Edukasi K3 di Sektor Pertanian Bagi Petani Desa Jatipecaron

31 Juli 2026 212 kali dibaca
Pemerintah DESA JATIPECARON
Sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keselamatan dalam bekerja, mahasiswa KKN UNIMUS Jurusan Teknik Mesin, Balya Alvin Nuha Azizi, memberikan edukasi mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) kepada kelompok tani di Desa Jatipecaron. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan para petani yang setiap hari beraktivitas di lingkungan kerja dengan berbagai potensi risiko. Sektor pertanian memiliki sejumlah risiko yang sering kali tidak disadari karena aktivitasnya sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Petani dapat menghadapi berbagai potensi bahaya, mulai dari paparan bahan kimia, penggunaan alat pertanian, kondisi lahan yang tidak rata, hingga keluhan fisik akibat posisi tubuh yang kurang tepat selama bekerja. Karena itu, pemahaman mengenai K3 menjadi penting untuk membantu petani mengenali risiko dan menerapkan langkah pencegahan yang sederhana namun efektif. Salah satu materi utama yang disampaikan adalah penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) ketika melakukan penyemprotan pestisida. Petani diberikan pemahaman mengenai pentingnya menggunakan perlengkapan pelindung seperti masker atau respirator yang sesuai, sarung tangan, pakaian kerja yang menutupi tubuh, pelindung mata, serta alas kaki yang memadai. Penggunaan APD tersebut diperlukan untuk mengurangi kontak langsung dengan pestisida yang dapat terjadi melalui kulit, mata, maupun saluran pernapasan selama proses pencampuran dan penyemprotan. Selain penggunaan APD, edukasi juga membahas kebiasaan kerja yang perlu diperhatikan sebelum, selama, dan setelah menggunakan pestisida. Petani diingatkan untuk memperhatikan petunjuk penggunaan pada label produk, menghindari penyemprotan melawan arah angin, serta menjaga agar peralatan dan bahan kimia tidak diletakkan sembarangan. Setelah pekerjaan selesai, kebersihan diri dan perlengkapan kerja juga perlu diperhatikan agar sisa bahan kimia tidak terbawa ke lingkungan rumah maupun area lain. Materi berikutnya berfokus pada aspek ergonomi dalam kegiatan bercocok tanam. Aktivitas seperti mencangkul, menanam, mencabut gulma, atau memindahkan hasil pertanian sering dilakukan dalam posisi membungkuk atau jongkok dalam waktu yang cukup lama. Jika dilakukan dengan posisi tubuh yang kurang tepat dan berulang, aktivitas tersebut dapat meningkatkan beban pada bagian punggung, pinggang, leher, maupun lutut. Dalam penyampaian materi, petani diberikan contoh mengenai posisi tubuh yang lebih ergonomis ketika melakukan pekerjaan di lahan. Penggunaan teknik kerja yang tepat, perubahan posisi secara berkala, serta pemberian waktu istirahat dapat membantu mengurangi beban fisik selama bekerja. Petani juga didorong untuk menyesuaikan cara menggunakan alat dengan kondisi tubuh dan jenis pekerjaan sehingga aktivitas dapat dilakukan dengan lebih nyaman. Kegiatan berlangsung dalam suasana diskusi yang interaktif. Para petani diberikan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman maupun kendala yang mereka hadapi selama melakukan aktivitas pertanian. Diskusi tersebut membantu menghubungkan materi K3 dengan kondisi nyata di lapangan, sehingga edukasi tidak hanya bersifat teoritis tetapi dapat langsung dikaitkan dengan kebiasaan kerja sehari-hari. Melalui kegiatan ini, diharapkan kelompok tani Desa Jatipecaron semakin memahami bahwa keselamatan kerja merupakan bagian penting dari aktivitas pertanian. Penerapan K3 tidak harus dimulai dari perubahan besar, tetapi dapat dilakukan melalui kebiasaan sederhana seperti menggunakan APD dengan benar, memperhatikan arah angin ketika menyemprot, menjaga kebersihan setelah menggunakan pestisida, serta menerapkan posisi kerja yang lebih ergonomis. Edukasi K3 ini juga menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN dalam memberikan pengetahuan yang dapat diterapkan secara langsung oleh masyarakat. Dengan meningkatnya kesadaran terhadap potensi bahaya dan cara pencegahannya, para petani diharapkan dapat bekerja dengan lebih aman, nyaman, dan sehat, sekaligus mengurangi risiko kecelakaan maupun gangguan kesehatan yang dapat muncul akibat aktivitas pertanian.